Mengelola waktu adalah masalah klasik yang selalu dihadapi oleh sesiapapun yang ingin selalu lebih produktif, efektif, sekaligus lebih efisyen. Sayangnya kita sering membuang waktu ketika membicarakan waktu. Waktu adalah komoditi yang abstrak. Ia akan terus berlalu dan tidak akan pernah kembali. Komitmen atas paradigma ini menunjukkan kualiti seseorang dalam menjalani kehidupannya. Kejayaan tidak pernah mengabaikan dimensi waktu. Dengan kata lain waktu menjadi salah satu parameter kejayaan atau nilai dari sesuatu.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian (Al-Hadits).
Pernahkah anda merasa sibuk sepanjang hari tetapi kemudian pulang dengan perasaan tidak mengerjakan apa-apa? Itulah yang dimaksud membuang waktu di mana anda melakukan sesuatu yang justru tidak ada atau sedikit maknanya dibanding waktu yang terpakai.
Idaratul waqt dikenal sebagai keupayaan mengelola waktu sehingga apa yang kita lakukan sekarang memiliki manfaat jangka panjang. Sekarang merupakan pelaburan kita di masa hadapan, kerana sekarang adalah sebahagian dari senario kehidupan masa hadapan yang kita buat atau kita pilih sendiri.
Menyimpan Waktu
Semua orang mendapat peruntukan 24 jam sehari. Namun terdapat hal menarik di atas kewujudan masa tersebut. Muncul dua paradigma tentang waktu. Paradigma Pertama yang mengatakan waktu adalah wang dan Paradigma Kedua menyimpulkan waktu adalah kehidupan. Pilihan seseorang atas salah satu paradigma tersebut akan menunjukkan misi, visi, serta aksi seseorang dalam mengisi waktu.
Sekiranya waktu adalah wang, secara logiknya ianya tidak logik, kenapa? Kerana waktu berbeza dengan wang secara wujud mahupun karakternya. Wang dapat ditabung, tetapi waktu tidak. Wang dapat dikembangkan jumlahnya, waktu tidak (24 jam per hari). Wang dapat dicari, waktu tidak. Paradigma kedua kelihatan lebih logik diterima akal. Kerana secara wujud dan karakternya waktu dan kehidupan adalah setara maknanya. Bila seseorang setuju dengan paradigma kedua, ia akan terdorong untuk selalu bertanggung jawab atas setiap waktu yang dilaluinya.
Demi waktu, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh , yang saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).
Dalam idaratul waqt kita harus mampu memerhatikan waktu yang terbuang. Ini sering disebutfaudha al waqt atau time wasters (membuang-buang waktu).
Faudha al Waqt
Time wasters adalah tindakan atas waktu tanpa menghasilkan manfaat jangka panjang. Dengan kata lain bila kita bertindak tanpa memikirkan manfaat jangka panjang maka sesungguhnya waktu kita terbuang. “The person who kills time hasn’t learned the value of life” (orang yang membuang waktu, masih belum mempelajari nilai kehidupan).
Saat dilanda Time Wasters, kita berada di dalam dua kemungkinan; pertama, waktu kita hilang dan tidak dimanfaatkan tanpa kita sedari (atau akibat pengaruh orang lain –faktor luaran); kedua, kita membuang waktu yang tidak sepadan dengan manfaat yang dihasilkan, dalam keadaan ini kita menyedari tindakan kita (faktor dalaman).
Seterusnya, kita akan cuba mengkaji beberapa perkara yang sering kita terjebak sehingga kita terperangkap dalam sangkar faudha al waqt, antara lain sebagai berikut :
i) Suka Menunda/Menangguh (procrastinate)
Kebiasaan menunda memang tidak mudah ditinggalkan. Ia ibarat ‘monsterpelahap waktu’ dalam diri sendiri. Belajar dan latihan sejak sekarang adalah penyelesaiannya. Jika tidak, kita akan selalu berada pada keadaan kritikal, melakukan pekerjaan terburu-buru kerana desakan waktu, kehilangan fokus dan prioriti, bahkan sangat mungkin anda mengalami tekanan.
Saranan praktikal:
Pertama, latihlah diri anda terbiasa melakukan pekerjaan yang lebih prioriti, tetapi secara keseluruhan kurang menyenangkan. Setelah selesai berilah penghargaan pada diri anda ( misalnya istirehat, rekreasi, dan lain-lain). Setelah itu lakukan pekerjaan yang anda sukai.
Kedua, biasakan memiliki agenda atau time schedule dan berusaha untuk beriltizam (commit) dengan perancangan yang telah dibuat. Kunci untuk menetapkan prioriti dalam bekerja adalah menanyakan pada diri sendiri apa untungnya bagi saya melakukan hal ini? Apa hubungannya dengan sasaran jangka panjang?
Ketiga, membuat prioriti dan waktu deadline. Perlu difahami bahawa membuat prioriti bererti kita membuat tingkatan kepentingan (grade of importance) dari setiap perkara yang harus dilaksanakan. Sebahagian dari kita menafsirkan prioriti sebagai jumlah waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas tertentu. Buatlah prioriti setiap hari dan diperinci setiap jam. Lakukan yang terpenting terlebih dahulu. Jika anda anggap semua penting, itu menunjukkan tidak ada yang penting.
Para ulama membahagikan tiga tingkatan kemaslahatan yakni: dhururiyyat(sesuatu yang tidak boleh hidup kecuali dengannya), hajjiyyat (mungkin mampu hidup tanpanya namun mengalami kesulitan), tahsinat (assessories, digunakan untuk menghias dan mempercantik kehidupan) dan sering disebut dengankamaliyyat (pelengkap).
ii) Menunggu
Ketika menunggu, seakan kita tidak melakukan apapun, bahkan beranggapan tidak banyak yang mampu dilakukan saat itu. Ini disebabkan beberapa keterbatasan. Pertama, tidak terbiasa melakukan pekerjaaan yang menuntut konsentrasi. Jika menunggu tentunya perlu sesekali menengok atau mencari yang kita tunggu. Jika terlalu asyik dengan pekerjaan sampingan mungkin tujuan utama yakni menunggu terlupakan.
Kedua, fasiliti dan tempat menunggu. Ertinya, kita hanya mungkin melakukan kegiatan sebatas fasiliti dan tempat dimana kita berada di saat menunggu. Jadi, kita perlu memastikan agar apapun yang dikerjakan tetap memungkinkan kita untuk mencapai tujuan utamanya.
Dengan segala keterbatasan ini, masih adakah sesuatu yang mampu dilakukan? Jawapannya tentu ada. Paling tidak berpikir, berzikir, membaca, membuat perancangan, mengembangkan idea, atau melakukan refleksi diri. Mengapa berfikir? Semua pekerjaan memerlukan pemikiran, dan semakin sering memikirkan apa yang akan dikerjakan, semakin matanglah perancangan itu. Tindakan menganalisa, membuat perancangan, akan semakin menajamkan kemampuan kita dalam membuat pertimbangan yang wajar.
Jadi berfikir secara mendalam memang sesuatu yang perlu untuk dilakukan setiap saat dan dimana saja. Apatah lagi sekiranya kita dapat memindahkan hasil pemikiran kita itu dalam bentuk catatan, maka hal ini sudah tentu merupakan pemanfaatan waktu yang sangat positif.
Manakala berzikir adalah kebiasaan orang-orang yang taqarub ilallah(mendekatkan diri dengan Allah). Paling tidak ada berapa manfaat yang mampu diperoleh daripada kegiatan zikir ini. Pertama, semakin tenteramnya nuansa ruhiyah (psychological air) sebagaimana janji Allah. Ala bidzikrillahi tathma’inul qulub (sesungguhnya hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang).Kedua, meningkatnya daya konsentrasi akibat terfokus pada sesuatu yakni Allah SWT. Ketiga, kesan berzikir bukan sekadar saat dilakukan, tapi juga punya kesan jangka panjang yang luar biasa (yakni pahala serta keredhaan-Nya) .
Inilah mini time management dimana waktu-waktu singkat dimanfaatkan secara optimum. Tanpa disadari Anda telah melakukan (pooling) atau penggabungan beberapa kegiatan tanpa membuang waktu dan terganggunya pekerjaan lain.
iii) Meeting Tidak Efisyen
Meeting menjadi penting kerana semua kegiatan dan tugas-tugas dari berbagai kalangan dikoordinasikan untuk pencapaian paling optimum, efektif, dan efisyen. Dari segi praktikal, meeting menjadi pemakan waktu yang paling lahap. Cubalah catat berapa banyak waktu anda termakan oleh berbagai meetingdalam sebulan? Ini terjadi kerana karakter orang-orang yang mengikuti meetingtersebut, kelemahan pemimpin meeting dalam mengendalikan agenda, kaburnya mekanisme meeting tersebut; dan biasanya dalam meeting selalunya banyak bicara daripada tindakan.
iv) Gangguan (Interruption)
Iaitu gangguan yang tidak diharapkan. Hal ini seringkali menjadi penyebab tidak efisyennya dalam pengelolaan waktu, contohnya; tetamu yang datang tanpa membuat temu janji terlebih dahulu, telefon yang membanjiri suasana kerja kita. Bila ini terjadi bererti anda dipengaruhi kepentingan luaran tanpa anda sendiri mampu menyelesaikan hal-hal penting anda. Penyelesaiannya, latihlah diri anda dan tingkatkanlah kemampuan mengambil keputusan anda untuk mengendali permintaan luar, dan tentu saja bukan bererti menolak kepentingan orang lain.
v) Bersosial Berlebihan
Sebagai makhluk sosial tentu saja kita semua perlu berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Apalagi bagi da’i, kita dituntut untuk menyerukan risalah kebenaran ini kepada setiap manusia. Namun terkadang sosialisasi ini tak mengenal batas, hingga tanpa disedari kita kehilangan banyak waktu hanya berborak tak tentu arah.
Saranan Praktikal: Biasakan ketika anda bersosial, tentukan terlebih dahulu tujuan positif yang ingin dicapai dan biasakan membuat limit waktu (Time Budgeting). Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruk umatku ialah yang paling banyak bicaranya, bermulut besar, dan berlagak pandai. Dan sebaik-baik umatku ialah mereka yang baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dalam al adab al mufrad dari Abu Hurairah).
vi) Superman
Takut mengagih tugasan. Bila ini dilakukan, bererti anda mengamalkanmanagement kuno yang mana anda selalu ingin melakukan segala sesuatu sendirian. Sikap perfetionist yang berlebihanlah sebagai penyebabnya.
Dalam perkembangan ilmu menagement, gaya seperti ini adalah gayamanagement pertama (managment by doing). Sementara gaya managementgenerasi terakhir sekarang ini sering dikenal dengan management by qualityyang berciri kental berorientasi pada kerja berkumpulan (team work).
Jadi, bilamana anda sukar menngagigkan tugasan bererti anda telah membuat diri anda sendiri menjadi orang primitif.
Saranan praktikal:
Pertama, sedarilah bahawa hal tersebut kuno, ketinggalan zaman, tidak efektif, dan malah melelahkan. Bahkan hal tersebut tidak selari dengan konsep Islam yakni amal jama’i, ta’awuna’alal birri wa taqwa.
Kedua, sedarilah bila anda mengagih tugasan kepada yang layak, bererti anda telah memberdayakan (empowerment) orang lain. Inilah ciri managementmoden. Mungkin akan menuntut sedikit masa pada awalnya, tapi akan selalu lebih baik untuk jangka panjang.
v) Tidak Mampu Mengatakan Tidak
Hal ini menujukkan sikap ketidaktegasan anda untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat ganguan (interruption), dan tentu saja akan mengganggu aktiviti pokok atau prioriti anda.
Saranan praktikal : Sedarilah bahwa anda tidak mungkin mampu melayani semua permintaan. Buatlah keputusan untuk melakukan apa yang harus dikerjakan dan benar-benar ingin untuk dilakukan dan katakan tidak untuk yang selain dari itu.
vi) Bekerja Tanpa Agenda
Ibarat membangun rumah tanpa blue print, tanpa anggaran, tanpa limit waktu, maka hasilnya amburadul menjadi kacau bilau. Seandainya jadi pun sukar untuk dinilai dimana letak pembazirannya.
Saran praktis : Renungilah betapa Islam telah melatih kita agar beraktiviti berdasarkan waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam Islam terdapat kegiatan ibadah yang telah diagendakan baik dalam sehari (sholat lima waktu), seminggu (sholat Jum’at), dalam sebulan ( puasa ayamul bidh dan tilawah Qur’an minimal satu juz), dalam setahun (puasa Ramadhan, Zakat), bahkan dalam seumur hidup (ibadah haji, jika mampu).
Buatlah agenda kerja harian, mingguan, bulanan. Ingat, bila anda gagal membuat perancangan, hakikatnya anda membuat perancangan untuk menuai kekacauan dan kegagalan, dan bersiaplah untuk menyesal. Ibnu Atho’illah berkata, “Siapa yang awal perjalanannya berkilau, berkilau pula kesudahannya.”
vii) Akrab dengan Penganggu
Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan bila engkau membangunnya dan orang lain yang menghancurkannya (sya’ir).
Ibnu Atho’illah berkata, ”Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang perilakunya tak dapat membangkitkan semangat, dan tutur katanya tak dapat menunjukkan engkau ke jalan Allah.”
Memang selalu ada saja teman yang terlalu suka bergurau tanpa memandang waktu, selalu mengajak berborak tanpa tujuan.
Saranan praktikal :
Pertama, hindari mereka sekerap mungkin kerana sesungguhnya mereka tidak pernah memacu prestasi anda, malah mematikan potensi serta waktu anda.
Kedua, tingkatkan kemampuan rundingan anda, sehingga anda mampu mengendalikan diri sekaligus menolong mereka keluar dari habitat kumpulan orang-orang lalai. Bila perlu gunakan methode rundingan win-lose (menang-kalah) untuk cepat menghentikan perbualan yang tidak bermanfaat itu.
viii) Tabiat Membaca yang Salah
Jangan terlebih dahulu gembira apabila anda mengisi mini time (waktu singkat), seperti menunggu dalam perjalanan dengan kegiatan membaca, dengan merasa telah terhindar dari lost time (kehilangan waktu). Mengapa? Kerana tabiat membaca yang salah pun akan membuatkan anda terjebak, sehingga tetap berada dalam sangkar lost time.
Oleh karena itu untuk mengurangi lost time akibat kebiasaan membaca yang salah ada beberapa tips sebagai berikut:
1. Bacalah sesuatu (majalah, Quran, buku, dan lain-lain) yang anda perlukan, dan cuba tanyakan pada diri anda apakah anda perlu teruskan?
2. Jadualkan kegiatan membaca sebagai bagian dari jadual harian Anda. Jika tidak, anda tidak akan pernah punya waktu untuk membaca.
3. Membacalah pada saat-saat yang tidak terlalu baik untuk mengerjakan hal-hal lain.
4. Tentukan apa yang akan anda baca dan berapa lama waktu yang akan dihabiskan.
5. Gunakan stabilo atau sejenisnya untuk menandai maklumat penting dari bacaan tersebut. Bila anda tidak ingin sumber bacaan itu kotor kerana coretan, anda tuliskanlah ia pada kertas lain. Dengan demikian anda telah mendapat manfaat nyata dari bacaan anda.
ix) Kurang Kreatif
Tingkatan kreativiti seseorang menunjukkan kepiawaian mengisi waktu seseorang. Bagi orang-orang kreatif, mereka tidak mengenal istilah seharus saya buat apa ini? Atau apa yang dapat saya lakukan? Biasanya orang yang kreatif akan terhindar dari perasaan sia-sia.
Saranan praktikal :
Pertama, berorientasilah untuk menciptakan hal-hal baru, karena kemampuan inilah yang memungkinkan untuk terjadinya perubahan dan pembaikan kualiti hidup. Perilaku kreatif merupakan fungsi dari unsur-unsur Imanginasi, Data,Evaluasi, dan Aksi (IDEA). Perilaku kreatif tidak akan muncul jika salah satu unsur-unsur di atas tidak ada.
Kedua, usahakan untuk tidak rigid pada kebiasaan yang sering menghalang untuk sampai kepada pendekatan-pendekat an kreatif dan inovatif. Perlu difahami bahwa kreativiti tanpa diimbangi sikap disiplin, akan menjebakkan kita kepada pembuangan waktu pula. Tanpa disiplin, manfaat dari prioritas, deadlinedan pooling tidak akan pernah menjadi maksimum.
Disiplin bererti mematuhi prioriti dan deadline yang telah ditetapkan. Kita menggunakan kreativiti untuk merancang dan menggabungkan beberapa kegiatan agar waktu yang tersedia dimanfaatkan secara optimum
Selamat berlatih. Jika sekiranya anda mampu mengelola waktu, bererti anda telah mampu mengelola diri sendiri, bahkan anda mampu membantu orang lain mengelola waktunya. Wallahu’alam.
By : Jundullah 0719
Sumber : Waqafah Tarbawiyah, Serial fikrah, dakwah dan harakah Edisi 01, Fajar Ahmad Sholeh
